Dewasa ini, seni rupa bukan lagi suatu terapi batin dan media refleksi akan realitas social bagi masyarakatnya, namun lebih menjadi sekedar produk seni yang butuh pembeli (Sony Kartika, Seni dan Maesenas Baru, 1996). Karya seni akhirnya tidak lagi menjadi “milik” seluruh lapisan masyarakat, menjadi barang mewah yang hanya dapat dinikmati sebagian kalangan. Maraknya pameran seni rupa misalnya, lebih sering diadakan di galeri-galeri mewah dan loby-lobby hotel. Fenomena ini yang akhirnya semakin mencerabutkan seni rupa dalam menara gadingnya. Arus komersialisasi seni juga menjangkiti dunia seni rupa Indonesia.
Setelah sempat mengalami kevakuman pada kurun waktu 1965 – 1970, dunia seni rupa Indonesia mulai bergairah kembali pada pertengahan decade 1970-an dengan munculnya gerakan seni rupa kontemporer yang dipelopori oleh G. Sidharta, Jim Supangat, Harsono, dan kawan-kawan (Herry Dim, Memahami Seni Rupa, 1996). Perkembangan ini juga didukung dengan dibangunnya pusat-pusat budaya seperti Taman Ismail Marzuki di Jakarta dan bangunan serupa di berbagai kota untuk meningkatkan aktivitas para seniman dalam menciptakan karya seni yang kreatif serta sekaligus merangsang apresiasi masyarakat terhadap kesenian. Dinamika ini berlanjt sampai era 1990-an, terbukti dengan munculnya seniman dan perupa yang mampu melahirkan karya yang di akui ditingkat internasional seperti Sunaryo, Nyoman Gunarsa, Dede Eri Supria, dan Djoko Pekik.
Panduan DOWNLOAD Kumpulan Skripsi super lengkap mulai dari cover, halaman pendahuluan, BAB I s.d BAB VI, penutup, lampiran, sampai daftar pustaka dan lampiran. Skripsi TA Arsitektur SELASAR SENI RUPA KONTEMPORER DI SURAKARTA.






0 komentar:
Posting Komentar